Tampilkan postingan dengan label Foto: INT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Foto: INT. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Oktober 2015

Sebuah Catatan Sejarah

                         TEKNOLOGI JIIHAD UNTUK NARASI PERADABAN

                                               

                                                  Oleh: Nurkholis


         Para penakluk imperium dari jazirah itu menyisahkan satu cerita yang lucu. Mereka tumbuh di tengah gurun sahara dan tidak bisa berenang. Itulah yang menjadi kendala bagi pasukan muslim saat mereka akan menaklukan persia di mana mereka harus menyeberangi sungai Eufrat dan Tigris. Namun dalam waktu yang singkat kendala itu bisa di lalui, sebab itu cuma sungai.

         Kendala menjadi semakin besar ketika Syam, Irak, dan Mesir sudah ditaklukan. Sebab semua ekspansi harus melewati laut. Itulah yang mengusarkan hati Umar bin Khathab, karena itu terlalu beresiko. Apalagi ketika beliau bertanya kepada Amr bin' Ash tentang suasana prajurit di atas kapal di tengah laut. 

Amr yang cerdas dan sedikit humoris mencoba melukiskan hal itu dengan sedikit dramatis. Bayangkan saja, ada sebatang pohon yang terapung di atas laut yang berombak. sementara ulat-ulat yang berada di dalam pohon tersebut berusaha untuk tetap bertahan dan tidak terseret ombak. Begitu juga dengan prajurit-prajurit yang berada di atas kapal tersebut.

        Umar bin Khathab tentu saja tidak buta dengan dramatisasi dalam deskripsi Amr bin' Ash itu. Tapi, toh dia pun harus menghentikan ekspansi melalui jalur laut itu, karena memang ada alasan lain. Teritori mereka sudah terlalu luas, masyarakat muslim yang baru ini juga terlalu multi kultur. Persoalannya terletak pada pengendalian. Tapi kemudian kebijakan Umar itu mengalihkan ekspansi ke kawasan Asia tengah dari arah Irak, sementara ekspansi ke arah Cyprus menuju Konstantinopel di hentikan.

        Inilah kemudian yang menjadi pembeda antara Umar dan Utsman. Sebab Utsman justru melanjutkan ekspansi ke wilayah-wilayah Romawi. Dan itu juga memicu penemuan teknologi maritim dalam sejarah peradaban Islam untuk mengembangan armada laut pasukan Muslim. Dari situlah mereka berekspansi ke teritori terakhir Mesir, Alexandria selanjutnya ke Afrika Selatan dan Utara, lalu membebaskan Cyprus dan Rhodes. Itu diluar ekspansi yang berlanjut ke Armenia.

       Jadi, hampir seluruh koloni Romawi sudah jatuh ke tangan Islam sejak saat itu. Yang tersisa adalah pusat kekuasaan mereka di timur, Konstantinopel, dan di barat Roma. Putra Heraklius Konstantin, bahkan dibunuh pasukannya sendiri dikamar mandinya di Cyprus akibat kekalahan bertubi-tubi yangbdialaminya. Tujuh abad kemudian, dengan armada laut pula Sultan Muhammad AL-Fatih membebaskan Konstantinopel yang sudah kama terkepung dan kesepian.

        Peradaban adalah sebuah narasi besar. Tapi para mujahid itu telah mengubah narasi besar itu menjadi " kapasitas besar ". Maka mereka mengembangkan teknologi jihad untuk mengimbangi narasi besar mereka. Teknologi berkembang mengikuti semangat jihad mereka. Dan bukan hanya karena ada teknologi baru mereka berjihad. Mereka adalah mujahid para pembelajar. Lalu, takdir sejarah mempertemukan dua kekuatan dahsyat itu. Yakni, narasi peradaban untuk generasi penakluk. Maka dari itu, jika kita memiliki cita-cita besar, kita harus menjadi pembelajar cepat. Karena pembelajaran akan mengubah kita menjadi penakluk.(*)