Minggu, 12 Juni 2016

UPEKS dan Pilihan Profesi

(Catatan Singkat Dalam Memperingati Awal Penerbitan Harian Ujungpandang Ekspres Yang Ke - 16)

Oleh : Nurkholis Lamaau
(Mantan Jurnalis Harian Ujungpandang Ekspres)

Setahun lebih (2014-2016) saya bekerja di Harian Ujungpandang Ekspres, salah satu media di bawah naungan Fajar Group, yang juga satu group dengan Jawa Post Nasional Network (JPNN).

Sesuai dengan taklinenya 'Barometer Bisnis Terdepan', maka Harian Ujungpandang Ekspres, atau biasa disingkat UPEKS, merupakan koran ekonomi lokal di Sulawesi Selatan (Sulsel) yang masih tetap eksis hingga sekarang.

Di tahun 2014, saya mulai berkiprah di Upeks sebagai reporter magang. Saat itu, saya direkomendasikan oleh sahabat saya, Srahlin Rifaid untuk bergabung di Upeks. Kini, pria asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang kerap disapa Lin, sudah berkiprah di salah satu media online di Makassar sebagai wartawan olahraga.

Saat itu, saya diterima langsung oleh Muhammad Akbar sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred). Sejak bergabung di Upeks, saya mendapat banyak pengalaman, terutama dalam hal peliputan yang tak dapat saya ceritakan satu persatu. Namun, pengalaman pertama sebagai reporter magang di Upeks adalah meliput HUT Persatuan Hotel dan Restaurant Indonesia (PHRI) Sulsel, yang digelar di Gedung Mulog.

Saat itu, Kordinator Liputan (Korlip), Andi Jasruddin memberi penugasan kepada saya. "Kamu ke Gedung Mulog sekarang. Nanti ketemu dengan fotografer Upeks, H. Yusuf. Nanti dia yang arahkan," ucap Jasruddin kepada saya waktu itu.

Pria yang kerap di sapa Andi Jas begitu tegas dalam memberi penugasan. Ada beberapa perhatian yang ia sampaikan kepada saya. Pertama, handphone harus aktif 24 jam. Kedua, wajib mengangkat telpon, dan ketiga, selalu membangun komunikasi dalam setiap peliputan.

Pak Andi Jas jika dilihat sepintas memang memberi sinyal ketegasan yang terurai dari raut wajahnya. Namun, diluar dari pekerjaan, beliau sangat akrab dan intens dalam memberikan perhatian kepada kami para reporter.

Di dapur redaksi, saya di bawah kendali Ibu Sukawati, selaku redaktur pada rubrik Jasa dan Niaga. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Beberapa bulan kemudian, Ibu Sukawati digantikan oleh H. Abdul Jabbar untuk menangani rubrik tersebut. Nah, dari H. Abdul Jabbar inilah saya di tempa secara militansi.

Pria yang seringkali melahirkan lelucon tak terduga ini pernah mengeluarkan satu ungkapan akronim terhadap nama dari media tempat saya bekerja.

"Upeks itu singkatan dari Universitas Pencipta Karyawan Sukses," ucap H. Abdul Jabbar saat rapat redaksi di waktu itu. Tentu, istilah yang tak pernah terbayangkan ini membuat saya tertawa.

Di bawah kendalinya, saya benar - benar merasakan menjadi seorang jurnalis sejati. Bagi saya, beliau adalah redaktur yang sangat tegas, keras, dan konsisten. Menjadi wartawan di bawah kendalinya, jangan sekali-kali kau katakan, "hari ini tidak ada berita pak,". Dijamin, kritikan-kritikan pedasnya bakal membuatmu K.O.

Kini, tepat di Tanggal 12 Juni 2016, media ekonomi yang menjadi barometer bagi para pengusaha lokal masyarakat Sulsel tersebut telah memasuki usia yang ke - 16. Walaupun saya sudah tidak berada di Upeks, namun bagi saya, Upeks adalah perusahaan pers yang benar-benar menciptakan karyawan sukses. Hal ini terbukti, sebab banyak jeblosan-jeblosan Upeks yang menjadi wartawan handal di media tempat mereka bekerja.

Dari upeks, saya banyak belajar tentang prinsip dan kaidah-kaidah jurnalistik. Di Upeks, saya banyak memahami tentang ekonomi. Walaupun saya bukan sarjana ekonomi, tetapi bersama Upeks, saya dapat menyimpulkan bahwa ekonomi adalah ilmu yang mencoba berbicara tentang kebutuhan, nasib, siasat dan rekayasa, persaingan, kekuasaan, keberpolitikan, dan perang. Dan dari Upeks-lah saya menjatuhkan pilihan untuk tetap menjadi jurnalis.

"Untuk upeks, teruslah terbit dalam memberikan gambaran perekonomian dari sisi-sisi lain yang menjadi kekhasannya." (*)

Sabtu, 11 Juni 2016

10 Jam Dipermainkan Gelombang

Subuh itu, seusai sahur, kami dari tim yang tergabung dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ternate, Basarnas Maluku Utara, Palang Merah Indonesia (PMI) Maluku Utara, dan Kodim 1501 Ternate serta sejumlah Jurnalis, berkumpul di Dermaga Dufa-Dufa, Kecamatan Ternate Utara Kota Ternate, Kamis 9 Juni 2016.

Rencananya, kami akan membawa sejumlah bahan logistik dan sekaligus melakukan verifikasi data kerusakan bangunan di Kecamatan Pulau Batang Dua, akibat musibah gempa tektonik 6,6 SR, yang melanda wilayah Maluku Utara beberapa hari kemarin.

Terlihat, beberapa teman jurnalis sedang membuka handphone smartphone. Rupanya mereka tengah memperhatikan jarak tempuh antara Ternate - Pulau Batang Dua di Google Maps. Maklum, selain jarak yang sangat jauh, disamping itu, perairan di seputaran Batang Dua dikenal dengan gelombang yang menggunung. Was-was campur tugas kian beraduk.

Saat itu, kami menggunakan speed yang seringkali digunakan untuk rute Ternate - Jailolo. Saya lupa namanya, namun speed yang kami gunakan saat itu cukup besar.

Setelah semua bahan logistik dinaikkan, kami pun dipersilahkan memasuki speed. Tidak menunggu lama, speed dengan daya tampung 60 orang serta mesin PK 40 sebanyak 5 buah yang menempel di buritan akhirnya dihidupkan. Kami pun berangkat, berlayar membelah lautan.

Hari mulai pagi, saya menoleh ke belakang, terlihat Gunung Ternate dan Hiri mulai membiru, pudar, ditelan jarak pandang. Dari arah utara, buih putih dengan gelombang sebesar gunung mulai mengoyang speed yang kami tumpangi. Seketika kami seolah dihempas kiri dan kanan. Saat itu, perjalanan memakan waktu sekitar 5 jam. Dan selama itu pula kami dipermainkan gelombang. Jendela speed pun kami tutup agar tidak kemasukan air. Perjalanan yang sangat menegangkan.

Juru mudi yang membawa kami rupanya sangat berpengalaman. Terlihat ia sangat serius menyesuaikan naluri dengan lautan. Sesekali memperhatikan arah kompas yang tersedia di depan stir kemudi.

Pukul 11.00 WIT. siang, kami pun tiba di Pelabuhan Pulau Batang Dua. Pekerjaan pun di mulai. Masing-masing tim mulai mengambil tugas. Ada yang melakukan survei, membagikan stok ke wilayah yang mengalami dampak kerusakan, dan kami, Jurnalis, tentu melakukan peliputan.

Pukul 03.00 WIT, pekerjaan pun selesai. Kami pun kembali menaiki speed. Walaupun gelombang yang menerpa kami tak seganas saat bepergian, namun guncangan-guncangan kecil masih tetap di rasakan.

Waktu perjalanan pulang dari Pulau Batang Dua ke Ternate pun sama, 5 jam. Hari mulai magrib ketika memasuki Ternate. Dan Alhamdulillah, kami yang masih konsisten dalam menjalankan ibadah puasa akhirnya berbuka di atas speed.(*)

Rabu, 11 Mei 2016

Islam dan Ilmu Pengetahuan Teknologi

Perpaduan Konsep Islam Dalam Menghadapi Arus Teknologi Informasi

Oleh : Nurkholis

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang informasi dan komunikasi sunguh mengagumkan. Revolusi informasi di abad modern ini ditawarkan sebagai suatu rahmat besar bagi ummat manusia. Revolusi informasi juga mampu mengubah masyarakat secara radikal menjadi suatu masyarakat yang tercerahkan. Penjajahan informasi dan penyebaran informasi besar-besaran melalui TV, Radio, Surat kabar, Majalah, dan sebagainya begitu agresif. Kemajuan teknologi informasi seolah membawa kita ke suatu lompatan panjang ke arah peradaban yang lebih tinggi. Sehingga boleh dikata, hampir semua negara di dunia ini terlanda arus revolusi informasi, dan dinamakan juga abad ini " Abad informasi ".

Tidak lepas dari ini, negara-negara dibelahan dunia lainnya, khususnya negara Muslim, ikut juga menikmati kemajuan teknologi informasi yang kian membanjir. Padahal belum tentu sesuai dengan kebutuhan dan kepentinganya, dan bahkan tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya negeri Muslim itu sendiri. Karena ketidaksesuaian itu ternyata berakibat, abad informasi bukan lagi rahmat, tetapi penyakit baru. Bagi masyarakat barat ia telah menghasilkan sejumlah problem, yang dimana, pemecahan terhadapnya terbukti tumpul bagi masyarakat Muslim.

Entah dengan hadirnya dunia teknologi informasi adalah jalan untuk mengefisiensi jarak komunikasi antar sesama, ataukah sebuah rekayasa dalam menelanjangi batas-batas moralitas. Kita tentu dilematis ketika diperhadapkan dengan berbagai macam kecanggihan dunia teknologi saat ini. Akibatnya, kita sedikit kesulitan dalam memecah substansi dari nilai guna teknologi tersebut.

Pandangan Yasraf Amir Piliang dalam bukunya 'Dunia Yang Dilipat' bahwa, saat ini kita sedang berada dalam sebuah zaman yang mengalami perubahan serba 'supercepat'. Gaya hidup supermodern di negara-negara maju dengan amat mudah dapat kita rasakan setiap saat, jam, dan hari. Melalui apa?!, tentu melalui Televisi, Handphone/seri tablet, Laptop, dan lain-lain sebagainya.

Sebuah dunia yang dilipat, kata Yasraf. Kini siapapun dapat menyaksikan dan memandang dunia secara keseluruhan. Negatifnya, representatif dari berbagai pertunjukan yang ditonton tersebut kemudian dijiwai dalam diri tanpa ada filterisasi. Ya.! Kehidupan yang baru. Maka pada prinsipnya, segala tindakan bersifat instan, cepat, dan tak menentu. Hal itu, kini menjadi suatu asupan yang wajib untuk dikonsumsi.

Arus informasi yang begitu cepat dari berbagai sumber dan kepentingan akhirnya kemudian akan membentuk paradigma dan keperibadian konsumennya, utamanya para remaja. Kemudian belum lagi dengan tayangan-tayangan televisi yang sekuler (seperti film barat misalnya), telah menjadi tontonan wajib sekaligus “trade mark” bagi identitas generasi masa kini. Tentu hal ini sedikit bertolak belakang dengan kebutuhannya sendiri. Perpaduan gaya dan kebutuhan kemudian dijewantahkan dalam bentuk-bentuk ciri. Tak heran jika identitas diri manusia muslim Indonesia seolah hilang kendali seiring kecepatan dunia teknologi. Tentu menyeret segala kepekaan dalam melihat porsi-porsi dampaknya. Maka tak heran jika manusia Indonesia sulit dibedakan dengan manusia Barat, dan akibat dari pada sesuatu yang berlebihan ini, maka terjadilah obesitas eksistensi (kegemukan pencitraan).

Segala bentuk pertunjukan yang nol akan nilai berlarian sana-sini. Seolah tak mau ketinggalan dalam mengikuti arus gaya (style) demi penilaian yang semu dari sesama pelaku teknologi. Maka pada akhirnya, gaya kemudian menjadi sebuah kebutuhan utama di masa kini. Segala keterbukaan telah mendorong perkembangbiakan, pelipatgandaan, dan penganekaragaman produksi informasi, serta tanda dan kesenangan tanpa batas dalam skala global.

Setelah semua batas-batas tersebut di atas lenyap, kemudian terbentuklah jaringan-jaringan transparansi diri. Didalam jaringan transparansi informasi (facebook misalnya), orang membaca, mendengar, melihat, menonton, menyukai, menyimpan, dan memamerkan apa saja yang dianggap amoral. Dengan lenyapnya daya tangkal dalam melihat sisi-sisi negatif, menyebabkan kita kehilangan energi spiritual, sebagaimana serangan virus HIV-AIDS yang mengerogoti daya tahan tubuh sehingga penyakit apapun dengan mudah masuk.

Memang, jamak dalam kehidupan ini selalu ada yang terbaik, bahkan diantara yang terburuk sekalipun. Tapi, wajah keeksistensian dengan gampang "berkat teknologi" dengan mudah bersalin rupa menjadi "wajar-wajar saja", jika semua pelaku teknologi mengangap itu adalah tabu.

Tan Malaka, dalam buku Materialisme, Dialektika, dan Logika (Madilog) serta Aksi Pergerakan Massa, memberikan sebuah penekanan dalam mengajak manusia Indonesia sebagai bangsa yang khas dengan keanekaragaman kultur untuk kembali ke esensial Indonesia yang sebenarnya. Ya.!! Manusia yang sarat akan nilai kebudayaan. Bukan bangsa yang plagiat, konsumtif, dan pragmatis.

Sekarang Kecepatan teknologi mengantarkan kita pada ruang-ruang instan yang banyak menimbulkan ketidakakuratan dalam melihat penentuan nilai. Hal ini dikarenakan tidak didasarinya Ilmu dan Agama, sehingga batasan-batasan etika dan estetika lenyap ditutupi ekstatse eksistensi. Terlihat dari arus informasi ini, banyak manusia yang tengelam di dalamnya. Arus informasi yang berlimpah ruah hanya sedikit yang mengandung makna, karena sudah terlepas dari basis tradisional masyarakat.

Lantas bagaimana kita menyikapi arus informasi ini. Sederhana, konsepnya perlu disusun berdasarkan dari konsep-konsep dasar Islam. Minimal ada tujuh konsep pokok Islam yang berkaitan langsung dengan penciptaan dengan penyebaran informasi, yaitu: tauhid (Ke-esaan Allah), 'ilm (Ilmu pengetahuan), hikmah (Kebijakan), 'adl (keadilan), ijma (konsensus), syura (musyawarah), istislah (kepentingan umum), dan ummah (komunitas muslim sedunia).

Dari tujuh konsep ini strateginya perlu dirancang, memadukan yang tradisional dan modern agar orientasinya tepat ke kebutuhan sendiri dan kepentingan umum, khususnya Muslim se dunia. Bukan untuk mereka pembuat teknologi dan penyebar informasi (dunia barat).

Beranjak dari konsep dan strategi itulah seharusnya dipancarkan informasi dunia Muslim. Hal itu agar sesuai dengan nilai-nilai Islami serta tidak kehilangan identitas sebagai bangsa peradaban yang mengedepankan ilmu pengetahuan.

Kelihatannya memang sedikit sulit, namun bagaimanapun juga sangat penting untuk dipikirkan, jika tidak, maka arus informasi bukan lagi rahmat, tetapi bencana bagi umat Islam itu sendiri. Sedikit saya mengutip penuturan Ali Syariati : " Rakyat dunia ketiga terlebih dahulu harus menegaskan warisan budaya mereka, termasuk warisan keagamaan mereka, sebelum mereka dapat berjuang melawan imprilialisme, dan agar mereka dapat meminjam teknologi barat tanpa kehilangan identitas mereka sendiri.(*)

Selasa, 03 Mei 2016

Romantislah Pada Tempatnya

ROMANTIS, adalah.....?????. Sejujurnya, saya sangat sulit mendeskripsikan romantis. Sebab, setiap pasangan memiliki cara yang berbeda dalam ber-romantisasi. Dan itulah yang menjadi kendala buat saya dalam mendudukan substansi dari romantis.

Namun, banyak gambaran romantis yang bertebaran bebas menabrak batas. Ada yang merayap dan ada yang melayang. Hal itu seakan menjadi suatu asupan jiwa untuk melanggeng status hubungan dalam kurun waktu yang selama-lamanya.

Entah sejak kapan romantis ini bergelora, dan sejak kapan adanya. Tentu sangat sulit kita menemukan kondisi yang berprinsip, namun apapun judul hubungannya, romantis tumbuh berkobar seiring panasnya cinta yang nyala.

Terkadang, posisi kita sebagai LAKI - LAKI yang sedikit BER - RAHANG KERAS, eh sory, maksudnya BERKARAKTER KERAS, agak kaku dalam menerima sifat dasar perempuan. Tapi, demi memuaskan birahi romantisasi sang gadis, style "miringkan kepala, bengkok-kan badan, julurkan lidah," dengan terpaksa dilakukan. Bahkan yang lebih cangih adalah, sms/bbm sekedar mengucap, "chayang, abis makan jang lupa minum air ee..." di scrand picture kemudian di upload di dunia maya. Maka pada akhirnya, obesitas romantisme terlihat fulgar dan sungguh mengelikan dipandang mata.

Romantis adalah sifat dasar perempuan manakala hatinya sudah terpaku pada orang yang dicinta. Dilain sisi, romantis dalam diri seorang perempuan merupakan suatu hal alamiah yang kelak akan mentransformasikan sikap kelembutan kepada anak-anaknya kelak.

Dalam buku Serial Cinta, karya Anis Matta pada pembahasan "Kelemahan Orang-orang Romantis", banyak memberikan gambaran tentang sisi-sisi melankolik dua insan yang jauh terjebak pada wilayah rasa, yang kemudian mengkerdilkan pemikirannya. Bahkan, kata Aniz, di zaman Rasulullah SAW, orang romantis pergi berperang dengan jiwa yang melankolik. Dalam gambarannya, sewaktu Perang Tabuk (perang melawan Bangsa Romawi), sebagian lelaki menolak turun ke medan perang dengan berbagai macam alasan. Adapun yang bergi, kata Anis, tubuhnya di medan perang, tetapi hatinya masih terpaut pada kehangatan ranjang. Kemungkinan inilah yang menjadi alasan diberlakukannya nikah Mut'ah (nikah kontrak) waktu itu. Sekarang so tarada...

Sepintas, memang kelihatannya sebuah kelemahan jika ditempatkan bukan pada tempatnya. Ibarat perhatian, "Buanglah Sampah Pada Tempatnya". Penegasan untuk menjaga "kebersihan" seolah relevan dalam setiap persoalan, termasuk perkara romantis. Tetapi, bagi saya, Anis Matta pun masih "galau" dalam menjelaskan sifat dasar manusia tentang romantis sebagai api cinta untuk mencairkan hubungan yang dingin membeku.

ah, maaf...!!! saya sudah terlalu banyak beromongkosong ria. Tapi, puncak klimaks dari tulisan ini adalah, romantis tidak selamanya berada pada wilayah foto bersama, jalan bersama, dan atau tidur bersama. Tetapi romantis yang paling agung adalah mendoakan dalam diam tanpa diketahui oleh siapapun.

Nurkholis Lamaau, Makassar, Kamis 8 Desember 2016

Sabtu, 16 April 2016

Mimpi Yang Tak Di Impikan

Secangkir kopi hitam,
Kuseruput menyisahkan ampas,
Menemani kesepian,
Dalam kesendirian.

Masih terbayang dengan mimpi semalam.
Tentang kau yang menutup hari-hari kesendirian,
Dengan pilihan yang tak pernah di impikan.

Suasana bahagia yang dinantikan sepasang insan,
Seolah momen mematikan dalam pilihan,
Deraian airmata jatuh tak tertahankan.
Kau telah dibumikan dalam kepasrahan.

Perempuanku...
Masihkah kau harapkan kepingan-kepingan kenangan
Untuk disatukan dalam ingatan.
Bukankah kita pernah bersepakat,
Tentang adanya cerita-cerita kehilangan.

Perempuanku...
Jangan kau ajak aku di dalam mimpi,
Sekedar melihatmu larut dalam tangisan.
Bukankah kita pernah bermimpi,
Dalam impian yang tak pernah menjadi kenyataan.

Ketahuilah perempuanku...
Bahwa cerita perpisahan kita adalah kenyataan.
Cukupkanlah do'a,
Sebagai perantara untuk saling megingatkan.

Minggu, 10 April 2016

Air Salobar Mengalirkan Kutukan Warga


                                                Oleh : Nurkholis
                                   (Pegiat PUSMAT Kota Ternate)

      Salobar adalah sebuah penuturan lokal masyarakat Maluku Utara yang diistilahkan untuk air yang terasa 'payau'. Diperjelas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi atau arti kata 'payau' adalah air yang terasa sedikit asin karena tercampur air laut. Hal ini seringkali terjadi pada wilayah yang berdekatan dengan lautan.

Air Salobar, pertama kali digemakan oleh warga yang bermukim di bagian utara Kota Ternate, tepatnya di Kelurahan Sangadji. Hal ini kemudian berlanjut hingga ke beberapa kelurahan lainnya. Sebab air yang seringkali mereka gunakan untuk keperluan sehari-hari seperti mandi, mencuci, minum, dan memasak, berubah rasa menjadi asin. Sehingga, hampir sebagian besar masyarakat yang bermukim di beberapa Kelurahan bagian utara seperti Soasio, Salero, Kasturian, Koloncucu, Siko, Sangadji, Dufa-Dufa, Akehuda, Tafure, hingga Sango, beralih menggunakan air gelon untuk keperluan konsumsi.

Parahnya, di Kelurahan Dufa-Dufa, terdapat 30% warga yang beralih menggunakan sumur bor. Hal ini merupakan efek daripada distribusi air dari PDAM yang terasa payau/salobar. Jika dikaji secara ilmiah, pemompaan air tanah dari akuifer pantai, turut meningkatkan intrusi air laut, karena tekanan air tanah berkurang dan menjadi relatif kecil dibandingkan dengan tekanan dari air laut. Sementara pemanasan global yang menyebabkan mencairnya es di kutub utara, tentu dapat meningkatkan tingginya volume air laut.

Tentu kejadian ini tidak serta-merta terjadi begitu saja, tetapi didasari dengan berbagai latar. Jika hal ini dipandang sebagai akibat dari intrusi air laut, maka penulis lebih tertarik untuk mencermati aktifitas manusia dibalik intrusi. Karena bagaimanapun upaya manusia dalam menyalahkan alam, Tuhan yang Maha Kuasa secara kompleks telah mengatur keseimbangan alam. "Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?" QS. Al-Waqiah ayat 68-69. Ayat ini seolah membawa manusia pada tahapan perenungan untuk melihat bagaimana air itu telah di atur keseimbangannya oleh Allah SWT.

Perlu kita ketahui bahwa intrusi air asin dapat terjadi secara alami hingga derajat tertentu pada sebagian besar akuifer pantai. Hal ini dikarenakan adanya hubungan hidrolik antara air tanah dan air laut. Karena air laut memiliki kadar mineral yang lebih tinggi dari air tawar, maka air laut memiliki massa jenis yang lebih tinggi, sehingga pergerakan air laut menuju air tawar cukup besar. Apalagi jika dilihat dari sisi geografis, Ternate adalah sebuah pulau yang dikelilingi lautan yang tentunya sangat mudah mengalami tekanan air laut yang begitu besar. Permasalahannya tentu dikembalikan pada kinerja pemerintah. Sebab mulai dari konsep "Ternate Kota Madani" yang lebih pada geliat pembangunan, maraknya galian C, hingga masuk pada konsep "Bahari Berkesan" yang ujung-ujungnya hanya reklamasi pantai, hingga adanya eksploitasi air tawar yang dilakukan secara berlebihan untuk bisnis pengadaan air kemasan Ino Oke. Hal inilah yang merupakan faktor utama intrusi air laut. Ditambah dengan tidak adanya antisipatif pemerintah dalam mensterilkan wilayah yang diprioritaskan untuk sumber mata air. Alhasil, pohon-pohon sagu sebagai penetralisir kadar air ditebang habis-habisan untuk orientasi pembangunan.

Atas dasar ini, tak heran jika perintah untuk menjaga alam, jauh sebelum itu, Allah SWT telah mengingatkan kita, "Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Al-A'raf : 56). Namun, masih saja sebagian manusia yang selalu memandang ke atas dalam konteks kepemilikan material. Mereka selalu merasa kurang atas apa yang sudah digenggamnya. Akibatnya, manusia selalu mencari dan mengambil secara material demi memenuhi kepuasan tak berujung.

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan Pemerintah Kota Ternate selaku penanggungjawab atas kebutuhan masyarakat untuk memperoleh air bersih seolah tak becus dalam menyelesaikan persoalan ini. Tak heran jika problem yang sudah memakan waktu hampir dua tahun berjalan ini menuai kutukan dari warga Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate.

Beberapa waktu lalu, sejumlah warga Dufa-Dufa beramai-ramai melakukan aksi di depan Kantor Walikota Ternate. Kedatangan mereka cukup kondusif. Terlihat beberapa massa aksi mencoba menuangkan segelas air salobar dengan rasa dan warna yang biasa di konsumsi warga di Kecamatan Ternate Utara. Air kemudian dilayangkan ke Satpol PP untuk di minum, namun hal tersebut ditolak oleh Satpol PP. Entah karena geli, gengsi, ataukah memang, mereka yang bercokol di bahwa instansi pemerintahan tak layak meneguk air se-salobar itu. Perlakuan ini bukan sebuah teatrikal yang diperagakan mahasiswa seniman. Tetapi itu adalah sebuah pertunjukan atas kenyataan yang dilayangkan warga dalam mencari setitik nurani para penguasa. Walaupun kedatangan mereka tidak membuahkan hasil, aksi pun kembali dilanjutkan di Kantor PDAM Kota Ternate.

Terdengar beribu-ribu kalimat cemoohan terlontar dari mulut-mulut warga. Mulai dari 'ketidakbecusan pemerintah', 'kegagalan pemerintah', 'PDAM dan Pemkot Ternate berbisnis', 'ada toko di dalam perusahaan', 'PDAM menggunakan air laut untuk didistribusikan ke warga', pembacaan 'QS. Al-Fatiha sebagai simbol sumpah-serapah' hingga pada desakan terhadap 'Direktur PDAM untuk turun dari jabatannya'. Terbawa suasana serta tak tahan menerima tekanan-tekanan yang keluar dari hati nurani masyarakat, Direktur PDAM Kota Ternate, Syaiful Djafar pun mengeluarkan sebuah pernyataan yang cukup mengejutkan, "ya! Air kemasan Ino Oke milik Pemkot Ternate,". Satu kalimat yang mewakili sejuta keserakahan dibalik jabatan kaum mapan. Sebuah ironi yang menuai sejuta ketidaksangkahan atas apa yang dilakukan mereka selama ini.

Perlu diketahui, air kemasan Ino Oke sebelumnya bernama Ake Qua, sesuai dengan nama perusahannya yang dikelolah langsung di dalam lingkup kantor PDAM Kota Ternate. Ironisnya, air kemasan tersebut diambil dari sumber mata air yang sama, yakni 'Ake Gaale'. Sementara, air yang berada di dalam kemasan terasa tawar dibandingkan dengan air yang didistribusikan ke masyarakat yang terasa payau/salobar. Padahal, hampir setahun masyarakat yang bermukim di bagian utara mengalami krisis air bersih, bahkan sumber mata air Ake Gaale yang menjadi andalan mereka telah mengering.

Walikota Ternate, H. Burhan Abdurahman pernah mengatakan, secepatnya menyelesaikan masalah tersebut. Namun sampai hari ini, masyarakat masih tetap mengkonsumsi air payau/salobar. Direktur PDAM Kota Ternate, Syaiful Djafar pernah menyatakan bahwa air di bagian utara Kota Ternate masih layak di minum. Namun hasil LAB menunjukan bahwa air tersebut tidak layak diminum. Pernyataan ini pernah dijelaskan sendiri oleh Kepala Teknisi PDAM Kota Ternate, Dahlan Muhammad bahwa, air yang didistribusikan PDAM di Ternate Utara tak layak di konsumsi. Sebuah upaya berupa pengadaan sumur bor yang dikerjakan di Kelurahan Facei tidak membuahkan hasil. Katanya, di bawa titik pengalian terdapat bebatuan.

Ini merupakan suatu bukti bahwa pemerintah selaku penanggungjawab segala kebijakan terlanjut salah, dan seolah tidak serius dalam menyelesaikan masalah ini. Padahal, pemerintah bisa saja melakukan relasi terhadap para ahli maupun pihak-pihak terkait yang paham dengan kondisi itu untuk mencari berbagai solusi. Namun, dari sejumlah lembaran media massa, yang diributkan hanyalah, siapa yang layak di kompensasikan, air salobar tidak di gratiskan, pengadaan 155 sumur bor pada hasil Musrenbang sebagai solusi, hingga keributan-keributan angin lalu lainnya.

Sejatinya, Bumi, Air, dan Kekayaan Alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Kalimat inilah yang terkandung di dalam dasar negara kita. Di dalam UU no 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Alam (SDA) ditegaskan bahwa rakyatlah yang sejatinya menikmati sumber daya alam tanpa terkecuali. Begitu juga dengan sumber daya air, rakyat harus menikmati air bersih, sehat, dan tidak tercemar. Namun sampai hari ini, penderitaan rakyat masih terus berlanjut. Tentunya, selama itu pula "kutukan-kutukan warga" akan terus mengalir.(*)

Rabu, 06 April 2016

Air dan Rasionalisasi Al-Qur'an

                                          Oleh : Nurkholis

Air adalah sumber segala kehidupan. Tanpa air, segala kehidupan akan terhenti, dan bahkan mati. Air adalah bagian terkecil dari kekuasaan Allah SWT yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan hidup seluruh makhluk di dunia.

Terkait hal ini, Allah SWT telah menjelaskan di dalam Al-Qur'an, surat an-Naba ayat (14) "Dan kami telah menurunkan air yang tercurah dari mega-mega yang tebal, (15) Untuk kami keluarkan dengan air itu biji-biji dan tumbuh-tumbuhan, (16) Dan kebun-kebun yang lebat,".

Di ayat lain, Allah SWT menjelaskan, "Sesungguhnya kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, (pohon) anggur, dan sayur-sayuran, (pohon) zaitun dan kurma, dan kebun-kebun yang lebat, dan buah-buahan dan rumput-rumputan, untuk kesenangan bagimu dan hewan-hewan ternakmu,".QS. Abasa: ayat 25-32.

Tak heran jika perintah untuk menjaga alam, Allah SWT telah mengingatkan kita, "Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Al-A'raf : 56).

Berbicara tentang air, Al-Qur'an sendiri banyak menjelaskan bagaimana Tuhan menciptakannya dengan penjelasan yang dapat dikaji secara ilmiah. Bukti ilmiah tersebut membuktikan bahwa ayat-ayat yang disampaikan Rasulullah SAW yang hidup di jazirah Arab yang kering kerontang adalah benar-benar firman Allah.

Perlu kita ketahui bahwa kondisi geografis di tanah Arab didominasi oleh padang pasir yang sangat jarang disiram air hujan. Hal ini berbeda dengan kondisi geografis yang berada di Indonesia sebagai wilayah tropis. Terlebih lagi, Indonesia adalah negara kepulauan yang dikelilingi oleh lautan.

Dalam hal ini, Rasulullah SAW telah memberikan penjelasan sangat ilmiah tentang siklus air. Sedangkan orang yang hidup di tanah Arab hanya mengenal air yang mereka konsumsi berasal dari sumur atau sungai Nil yang menjadi sumber air utama bangsa Arab waktu itu.

Terkait hal ini, di dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 22 disebutkan, "Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap dan Dialah yang menurunkan air dari langit …"

Ayat tersebut secara jelas mengatakan bahwa air yang kita minum adalah air yang diturunkan dari langit. Dalam hasil penelitian menyebutkan bahwa air tawar yang kita minum berasal dari hujan. Air tersebut turun melalui siklus peredarannya sehingga tersedia air tawar di hulu pegunungan. Awalnya ia berevaporasi, kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan es, hujan gerimis dan atau kabut.

Dalam tahapan ini, Al-Qur’an memberikan informasi secara tepat mengenai pembentukan hujan. "Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira" QS-Ar-Rum [30]:48).

Al-Qur’an tidak langsung mengatakan bahwa air yang kita minum berasal dari sungai, sumur, atau danau. Tapi ia diturunkan berupa air hujan. Dan dari hujan inilah terbentuk sumber-sumber air yang akan mengaliri sungai-sungai, mengisi sumur-sumur, dan memenuhi danau. Tanpa air hujan, siklus air di planet bumi ini tidak akan berjalan. Secara ilmiah siklus ini dinamakan siklus hidrologi.

"Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?" QS. Al-Waqiah ayat 68-69.

Ayat ini seolah membawa manusia pada tahapan perenungan untuk melihat bagaimana air itu diciptakan. Hanya saja, dari sederet tahapan yang telah di atur oleh Allah SWT ini, masih ada sebagian dari manusia yang selalu memandang ke atas dalam konteks kepemilikan material. Mereka selalu merasa kurang atas apa yang sudah digenggamnya. Akibatnya, manusia selalu mencari dan mengambil secara material demi memenuhi kepuasan tak berujung.

                         Air dan Komersialisasi para Penguasa

Satu bukti keserakahan yang diperlihatkan manusia adalah tingginya eksploitasi air secara berlebihan. Hal ini dapat dilihat di Kota Ternate. Hampir setahun, masyarakat yang bermukim di bagian utara KotaTernate mengalami krisis air bersih, bahkan sumber mata air Ake Gaale telah mengering, menyisahkan air mata warga.

Problem ini telah berjalan hampir setahun lamanya. Walikota Ternate, H. Burhan Abdurahman pernah mengatakan secepatnya menyelesaikan masalah tersebut. Namun sampai hari ini, masyarakat masih tetap mengkonsumsi air payau/salobar.

Direktur PDAM Kota Ternate, Syaiful Djafar pernah menyatakan bahwa air di bagian utara Kota Ternate masih layak di minum. Namun hasil LAP menunjukan bahwa air tersebut tidak layak diminum. Pernyataan ini pernah dijelaskan sendiri oleh Kepala Teknisi PDAM Kota Ternate, Dahlan Muhammad.

Seiring dengan itu, PDAM bersama Pemerintah Kota Ternate dengan semangat kapitalisnya meluncurkan sebuah air kemasan bermerek "Ino Oke" yang diambil dari sumber yamg sama, yakni "Ake Gaale". Sedangkan air yang berada di dalam kemasan, terasa tawar. Ini merupakan suatu bukti bahwa pemerintah seolah tidak serius dalam menyelesaikan masalah ini.

Padahal, bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Kalimat inilah yang terkandung di dalam dasar negara kita. Di dalam UU no 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Alam (SDA) ditegaskan bahwa rakyatlah yang sejatinya menikmati sumber daya alam tanpa terkecuali. Begitu juga dengan sumber daya air, rakyat harus menikmati air bersih, sehat, dan tidak tercemar. Namun sampai hari ini, penderitaan rakyat masih terus berlanjut.

Di sela-sela aksi yang dilakukan oleh masyarakat Dufa-Dufa pada Senin 4 April 2016 kemarin, Direktur PDAM Kota Ternate, Syaiful Djafar secara mengejutkan mengeluarkan pernyataan bahwa Bisnis Ino Oke milik Pemerintah Kota Ternate. Pertanyaannya, stambuk Kekhalifaan yang diamanatkan Tuhan kepada manusia dikemanakan para beliau-beliau...?!

                                                           *****