Senin, 05 Oktober 2015

Dunia Kecepatan

                                 __Sebuah Pertunjukkan Realitas__

                                         
 
                                                Oleh: Nurkholis



          Suatu masa (kemungkinan saat ini) dan kedepannya lagi yang sarat akan inovasi, terobosan, atau pengembangan di bidang teknologi akan memberikan reaksi yang sangat fantastis. Entah dengan hadirnya dunia teknologi adalah jalan untuk mengefisiensi jarak komunikasi antar sesama, ataukah sebuah rekayasa dalam menelanjangi batas-batas moralitas. Kita tentu dilematis ketika diperhadapkan dengan berbagai macam kecanggihan dunia teknologi sehingga, kita sedikit kesulitan dalam memecah substansi dari nilai guna teknologi tersebut.

        Pandangan Yasraf Amir Piliang dalam bukunya 'Dunia Yang Dilipat' bahwa, saat ini kita sedang berada dalam sebuah zaman yang mengalami perubahan serba 'supercepat'. Gaya hidup supermodern di negara-negara maju dengan amat mudah dapat kita rasakan setiap saat, jam, dan hari. Melalui apa?! Tentu melalui Televisi, Handphone/seri tablet, Laptop, dan lain-lain sebagainya.

      Sebuah dunia yang dilipat, kata Yasraf, kini siapapun dapat menyaksikan dan mengalami dunia secara keseluruhan. Negatifnya, representatif dari berbagai pertunjukan yang ditonton tersebut kemudian dijiwai dalam diri tanpa ada filterisasi. Ya.! Kehidupan yang baru. Maka pada prinsipnya, segala tindakan bersifat instan, cepat, dan tak menentu. Hal itu, kini menjadi suatu asupan yang wajib untuk dikonsumsi.

        Pada masyarakat konsumerisme/mengkonsumsi secara berlebihan (Lihat: Gaya Hidup Remaja Masa Kini), sedikit bertolak belakang dengan kebutuhannya sendiri. Perpaduan gaya dan kebutuhan kemudian dijewantahkan dalam bentuk-bentuk ciri. Tak heran jika identitas diri manusia Indonesia seolah hilang kendali seiring kecepatan dunia teknologi. Hal ini tentu menyeret segala kepekaan dalam melihat porsi-porsi dampaknya. Maka tak heran jika manusia Indonesia sulit dibedakan dengan manusia Barat, dan akibat dari pada sesuatu yang berlebihan ini, maka terjadilah obesitas eksistensi (kegemukan pencitraan).

       Segala bentuk pertunjukan yang nol akan nilai berlarian sana-sini. Seolah tak mau ketinggalan dalam mengikuti arus gaya (style) demi penilaian yang semu dari sesama pelaku teknologi. Maka pada akhirnya, gaya kemudian menjadi sebuah kebutuhan utama di masa kini. Tentunya, keterbukaan telah mendorong perkembangbiakan, pelipatgandaan, dan peanekaragaman produksi informasi, serta tanda dan kesenangan tanpa batas dalam skala global.

     Setelah semua batas-batas tersebut di atas lenyap, kemudian terbentuklah jaringan-jaringan transparansi diri. Didalam jaringan transparansi informasi (facebook misalnya), orang membaca, mendengar, melihat, menonton, menyukai, menyimpan, dan memamerkan apa saja yang dianggap amoral. Dengan lenyapnya daya tangkal dalam melihat sisi-sisi negatif, menyebabkan kita kehilangan energi spiritual, sebagaimana serangan virus HIV-AIDS yang mengerogoti daya tahan tubuh sehingga penyakit apapun dengan mudah masuk. Maka, hal-hal yang sedang kita lihat saat ini yakni;

*Melakukan aktivitas komunikasi via SMS, BBM, Chat, dll bersama pasangan kekasihnya, lalu di Screen, kemudian diupload di medsos. (Pertanyaanya, efek atau dampak yang positif terhadap pembaca apa?!)

*Sepasang kekasih (bukan muhrim) yang barangkali belum diridhai kedua orang tua untuk berhubungan, terlihat berpeluk/berciuman ria di media sosial. (Batas-batas etika dan estetika lenyap dilahap ekstase)

*Mengumbar seisi tubuh dengan sehelai benang yang tipis untuk mengundang decak kagum terhadap seluruh pelaku teknologi. (Siap menuai prasangka buruk demi kepuasan diri)

*Meniru habis-habisan setiap gaya para artis, kartun/anime, dll. (Sensaional dengan alibi, memecah kebekuan dalam berekspresi, dan setiap orang memeiliki hak untuk berekspresi)

*Menjelang hari besar keagamaan, ruang-ruang spiritual dibuka habis melalui pintu-pintu teknologi. (Mungkinkah ia seorang ahli ibadah?, atau ahli taubat?, dan atau pendakwah?!. Baca: Riya').

         Lima poin di atas adalah bagian terkecil dari dinamika ruang maya yang sarat akan amoral etika-estetika. Memang, jamak dalam kehidupan ini selalu ada yang terbaik, bahkan diantara yang terburuk sekalipun. Tapi, wajah keeksistensian dengan gampang (berkat teknologi) dengan mudah bersalin rupa menjadi "wajar-wajar saja", jika semua pelaku teknologi mengangap itu adalah tabu.

         Tan Malaka, dalam buku Materialisme, Dialektika, dan Logika (Madilog) serta Aksi Pergerakan Massa, memberikan sebuah penekanan dalam mengajak manusia Indonesia sebagai bangsa yang khas dengan keanekaragaman kultur untuk kembali ke esensial Indonesia yang sebenarnya. Ya.!! Manusia yang sarat akan nilai kebudayaan. Bukan bangsa yang plagiat, konsumtif, dan pragmatis.

        Akhir tulisan: "Diceritakan, Rasulullah SAW diperjalankan oleh Tuhan (isra mikraj) dari Baitull Mukarramah ke Baitull Maqdis hingga naik ke Sidratull Mumtaha, hanya memakan waktu semalam. Jika kecepatan itu kita melihat dengan kacamata Ilmu Fisika, tentu kulit Rasulullah akan terbakar habis oleh gaya/kecepatan. Hanya saja, dia diperjalankan sendiri oleh Maha Cahaya (An-Nuur).

Sekarang Kecepatan teknologi mengantarkan kita pada ruang-ruang instan yang banyak menimbulkan ketidakakuratan dalam melihat penentuan nilai. Hal ini dikarenakan tidak didasarinya Ilmu dan Agama, sehingga batasan-batasan etika dan estetika lenyap ditutupi ekstatse eksistensi. Jika Rasulullah SAW diperjalankan oleh Allah, maka sampai sejauh mana akal membimbingmu dalam mengarungi kecepatan dunia teknologi". Wallahualam bishawam....

2 komentar: