Sampai hari ini, pemberitaan kabut asap yang menyelimuti beberapa wilayah seolah tiada henti. Dampak dari kabut asap yang terjadi seperti di Riau, Papua, Bahkan Maluku Utara, banyak mempengaruhi segala aktifitas, salah satunya dari sektor transportasi udara. Bahkan di Riau sendiri sampai menelan korban, baik dari korban meninggal dunia hingga terserang ISPA yang tentunya berpotensi membawa kematian.
Berbagai dugaan kriminal terkait pembebasan lahan yang dilayangkan ke sejumlah perusahaan terus digugat. Upaya pemerintah serta berbagai bantuan untuk pemadaman terus berdatangan.
Tidak hanya itu, sejumlah 'meme' yang bersifat kritikan terus bermunculan. Bahkan, anak-anak korban asap dibekali secarcik kertas yang bertuliskan, " pak presiden, tolong kami dari kabut asap ini. Pak presiden, harus berapa banyak korban lagi yang ditunggu, dll, " sebagai bentuk ekspresi keprihatinan.
Inilah dinamika bencana ketika musibah ditimpakkan kepada manusia. Selalu ada upaya yang dilakukan, dan selalu pula kritikan yang tak alpa untuk dilayangkan.
Menurut pemberitaan yang tersajikan di berbagai media, memang ada penyimpangan yang dilakukan sejumlah perusahaan. Sebut saja di Riau. Hanya karena kepentinggan perusahaan, maka hutan harus dikorbankan, dengan cara pembakaran. Itu menurut berita yang saya baca.
Sementara, dari data yang dikeluarkan pihak BMKG, bencana ini bertepatan dengan musim kemarau, tapi walaupun tidak melalui BMKG pun saat ini kita tahu bahwa Indonesia sedang dilanda kemarau.
Tentu, dengan adanya bencana kebakaran serta cuaca yang terjadi, maka tidak ada keseimbangan alam yang dapat mentaktisi hal tersebut. Sebab secara logika, andai saja kebakaran tersebut terjadi di musim penghujanan, maka proses pemadaman tidak berlangsung lama. Bahkan berpotensi kecil terjadinya kebakaran. Namun demikianlah siklus alam. Kita hanya mampu berandailogika.
Manusia, jika terjadi sebuah bencana alam, ada hak ' kejengkelan ' yang terlegitimasi dari musibah yang terjadi. Maka, yang disalahkan adalah pemimpinnya. Sebab, siapa lagi yang mau disalahkan. Akh... pemimpin memang dipilih untuk disalahkan.
Kalaupun Tuhan disalahkan, juga tak masalah. Cukup tinggalkan Shalat, berhenti beristighfar, dan berhenti memohon kepadanya. Yah, sebagai bentuk 'protes' terhadap Tuhan.
(Tapi, " Alhamdulillah " belum ada satu manusia yang terekspos memprotes Sang Pemilik Alam)
Hanya saja, sedikit keyakinan atas kebesaran Rabbul Alamin yang masih terjejaki di iman kita. Rupanya, ada sedikit keraguan yang menyelimuti setitik kesadaran. Dan jika benar demikian, maka apa yang difirmankan Tuhan sangat relevan dengan bencana yang terjadi saat ini.
" Tetapi mereka bermain-main dalam keragu-raguan. Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih. " QS Ad-Dukhan (Kabut), ayat 9-10-11.
Mungkin, kita yang berada di zona aman tidak merasakan seperti apa yang mereka rasa. Tetapi, keimanan dan keyakinan semestinya menakar gumpalan keraguan yang pekat.
Barangkali kita harus bersepakat, bahwa dengan kekuatan do'a, ikhlas, sabar, taubat, istighfar, sujud sembah pasrah adalah samudera keimanan dalam memadamkan api keraguan.
Jika keseragaman itu terjadi, In Shaa Allah, hanya dengan " Qun faya Qun ", tak ada yang mustahil dari dia yang Maha Perkasa. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar