Darah muda, masa yang berApi-api atau, di Api-apikan
Oleh: Nurkholis
"Akhirat berjalan maju, sedangkan Dunia berjalan mundur.
Dunia masanya beramal, sedangkan Akhirat masanya memperhitungkan. Jadilah generasi Akhirat, bukan budak - budak dunia".{ Syaidina Ali bin Abi Thalib ra }
Dalam dunia psikologi masa muda/remaja merupakan masa di mana seseorang mempunyai rasa ingin tahu yang amat besar serta selalu ingin mencoba sesuatu yang baru. Hal ini memang sudah seperti kewajiban dalam sistematika perkembangan manusia.
Dalam konteks ini, remaja dikatakan labil dan atau tidak stabil dalam pola pikir maupun tingkah laku, maka lingkungan sosial sebagai faktor eksternal mempunyai pengaruh yang sangat kuat untuk membentuk karakter anak yang pada akhirnya akan menenentukan apakah masa muda itu akan menjadi api yang menerangi atau membakar.
“Darah muda, masa yang berapi-api,” begitulah sepenggal lirik lagu dari Bang H. Roma Irama yang mungkin masih terngiang di benak kita ketika melihat fenomena sosial remaja dewasa ini. Akhir-akhir ini perubahan pada lingkungan sosial itu semakin liar dan tidak terkendali, sehingga makin menjauhkan dari nilai-nilai kehidupan yang baik dan benar.
Pergaulan bebas, sebuah produk impor yang merusak ternyata telah menjadi komoditi yang cukup laris di kalangan remaja. Apalagi dalih mereka, kalau bukan kemajuan, modernisasi, kesetaraan gender dan alasan-alasan menggiurkan lainnya, yang kemudian hanya membuat wajah dunia ini semakin kacau dan carut-marut.
Kita memang sedang hidup pada sebuah zaman yang seolah semua waktu dan tempat merupakan sebuah dimensi yang serba muda diakses, tidak ada hal yang tidak kita ketahui dibelahan bumi yang lain, dengan berkembangnya fasilitas teknologi informasi dewasa ini yang telah menghilangkan jurang pemisah pada semua dimensi kehidupan, dan kemudian memungkinkan orang untuk menyampaikan apa yang diinginkannya kepada orang lain. Maka telepon, radio, televisi, dan internet merupakan sarana umum untuk menyampaikan informasi dan propaganda.
Arus informasi yang begitu cepat dari berbagai sumber dan kepentingan akhirnya kemudian akan membentuk paradigma dan keperibadian konsumennya, utamanya para remaja. Kemudian belum lagi dengan tayangan-tayangan televisi yang sekuler (seperti film barat misalnya), telah menjadi tontonan wajib sekaligus “trade mark” bagi identitas generasi masa kini.
Tak hanya itu, artis-artis dan para olahragawan dijadikan sebagai tokoh panutan mereka, mulai dari pakaian, gaya hidup dan semua yang melekat pada mereka ditiru habis-habisan. Padahal mereka yang ditiru notabenenya merupakan orang-orang yang mungkin belum merasakan makna kehidupan yang sejati. Maka, perlahan tapi pasti sebuah peradaban telah bergeser. Nilai-nilai kehidupan, etika yang religius serta paradigma yang sehat telah terancam keberadaannya, untuk kemudian digantikan oleh sebuah tatanan serta nilai-nilai baru yang ironis-nya merupakan sebuah "produk gagal" di negara asalnya.
Ya, paham-paham sekulerisme, hedonisme, materialisme, serta free seks, sesungguhnya merupakan produk sampah dari zaman Jahiliyah yang dikemas dengan wajah baru oleh sebuah peradaban yang me-ngaku "modern".
Besarnya angka kriminalitas, semakin tingginya tingkat depresi serta keresahan yang tak tersembuhkan di kalangan masyarakat barat adalah bukti-bukti nyata sekaligus efek langsung dari penerapan semua paham-paham tersebut. Dan ketika menyadari bahwa tatanan itu telah gagal, maka mereka justru berlomba-lomba untuk mencari "pasar" baru bagi ide-ide sampah tersebut agar laju roda perekonomian serta rencana besar yang sedang mereka susun tetap bisa berjalan sesuai rencana. Maka, itulah yang sedang kita lihat di sekeliling kita hari ini.
Wajah Barat yang ditiru habis-habisan oleh sebagian besar anak muda. Citra "maju" dan "modern" sepertinya cukup ampuh untuk menarik para remaja-remaja sekarang. Parahnya, melalui media yang semakin beragam dan canggih, segala macam bentuk kegagalan itu bisa tersaji secara apik, indah dan sangat menggiurkan, dan sepertinya itu semuanya memang telah direncanakan secara matang oleh musuh-musuh Allah SWT dalam upaya abadinya merongrong umat Islam dari dalam. Mengenai hal ini, Rasulullah Muhammad SAW sendiri telah mengingatkan kita:
"Sungguh kalian akan mengikuti tradisi dan budaya umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta hingga jikalau mereka masuk ke dalam liang dhab (sejenis biawak), maka kalian akan mengikutinya!! Kami bertanya, " Wahai Rasulullah! Apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?" Beliau bersabda, "Siapa lagi?!" (HR. Al-Bukhari)
Free seks, perjudian, minum-minum khamar dan kebiasaan Jahiliyah lainnya sekarang sudah seperti menjadi rutinitas dan pemandangan yang umum, sedangkan hal-hal yang berhubungan dengan ritual agama justru seperti menjadi aneh ketika dikerjakan. Sungguh suatu pemandangan yang menyedihkan bagi generasi pelanjut penulis sejarah kehidupan.
Ya, zaman ini memang sedang sakit, kuatnya pengaruh budaya "western" yang tak pernah selesai membawa 'angin budaya' nya seakan telah menjadi mode baru yang wajib ditiru. Sekaligus menjadi legitimasi bagi tradisi yang menyesatkan tersebut. Memang, Islam datang pada masa jahiliyah dalam keadaan asing, dan telah datang masanya di mana Islam saat ini dirasakan asing oleh pemeluknya. Sungguh benar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka thuuba (beruntunglah) orang-orang yang asing.” (HR Muslim).
Tentunya hal ini adalah mimpi buruk bagi masa depan bangsa, negara dan generasi selanjutnya, maka perlu menjadi perhatian bersama baik orang tua sebagai lingkungan sosial terkecil, maupun masyarakat untuk membangun filter yang baik bagi kaum muda.(*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar